Pages

Friday, July 17, 2015

asalamualaikum beijing

Resensi filem
Assalamualaikum Beijing
Remang remang hatiku mulai meraba setiap detik kisahnya, hari ini tanggal 17 juli 2015 RCTI menayangkan filem asalamualaikum beijing, sebuah filem yang terlahir dari buku terkenal asma nadia dengan judul sama. Berikut ulasan buku yang kudapatkan dari kompas {sumber http://www.kompasiana.com/lia.alleeya/resensi-novel-assalamualaikum-beijing_552fac846ea83429158b456f}
Assalamualaikum, Cinta Sejati!

Judul buku/novel : Assalamualaikum Beijing!

Penulis : Asma Nadia

Penerbit : Noura Books

Jumlah halaman : 354 halaman

Ukuran buku : 13x20 cm

ISBN : 978-602-1606-15-5

Harga buku : Rp 55.000,00

Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama istana cinta dalam sebuah pernikahan. Namun, arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur , dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panahnya melesat pada Anita. Dewa sudah mengkhianati Ra, sebulan sebelum pernikahan Dewa dan Ra diresmikan. Dewa menikah dengan Anita.

Setelah Dewa menikah dengan Anita, perasaan kehilangan teramat besar memukul-mukul batin. Dewa merindukan Ra. Dewa hanya ingin mendampingi Anita hingga bayi mereka lahir, lalu mengurus perceraian secepatnya. Dia tidak peduli. Satu-satunya yang dia pedulikan selama ini, adalah bagaimana bisa kembali bersama Ra.

Apa yang telah dilakukan Dewa benar-benar menghancurkan kepercayaan Ra tentang cinta. Pemuda yang dikira akan mengiringi langkahnya ke pelaminan, ternyata harus menjauh dari hidupnya. Cinta sejati hanya mitos, keluhnya. Beberapa hari terpuruk di kamar, bermandi air mata. Namun perlahan mata gadis itu terbuka. Dia tahu setiap yang patah hati harus segera mencari obat penawar luka. Hijrah dari kekecewaan dengan memaafkan. Berpikir begitu, dia meneruskan perjuangan menutup lembaran hati yang dulu sempat terisi oleh lelaki bernama Dewa.

Di sisi lain, Asma yang sedang meliput di China, bertemu dan berkenalan dengan Zhongwen, pemuda dengan rahang tegas yang kontras dan sepasang mata cerdas yang bersinar lembut. Pemuda yang tak hanya tersenyum dengan bibir, tapi juga dengan matanya. Pemuda itu mengajak Asma mengenal cinta sejati, melalui dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan.

Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Hingga dia bertemu Asma. Kebahagiaan sederhana yang dirasakan Zhongwen saat mereka duduk bersisian. Namun dia yakin, dia tidak sedang jatuh cinta. Dia bukan tipe romantis yang mempercayai love at first sight. Menurutnya, cinta ada melalui serangkaian proses: perkenalan, adaptasi, kesamaan selera, kebersamaan melewati berbagai ujian, yang kesemuanya mensyaratkan tahapan dan waktu.

Ra yang berusaha menutup hati untuk Dewa, dan Asma yang berjuang melupakan lelaki berahang kukuh yang diam-diam memujanya. Dua nama, satu cinta. Bersama, mereka mencoba menaklukkan takdir yang datang menyapa.

Assalamualaikum Beijing! Judul yang menarik... mengingatkan saya akan karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat-ayat Cinta, yang mengajak saya untuk menikmati keindahan Mesir. Begitu pula dengan karya bunda Asma Nadia yang satu ini, mampu mempresentasikan keindahan-keindahan Beijing dengan sangat apik. Bahasa-bahasa China yang digunakan juga mampu menambah daftar kalimat romantis di buku besar saya, hehee...

Novel ini mengajarkan banyak hal kepada mereka yang akan menikah maupun yang sedang menikah. Khususnya saya yang ingin segera menikah, hehee... Bertahun-tahun pacaran, belum tentu jadi pasangan hidup :-D Gambaran dinginnya rumah tangga Dewa, serta harmonisnya rumah tangga Asma, terpapar dengan jelas.

Tapi jujur, saya malah terpesona dengan sikap Anita setelah menikah, kesabaran menghadapi sang suami sungguh luar biasa. Tak kalah dengan ketegaran Asma.

Menariknya, setiap bab dibuat dengan sudut pandang berbeda, menerbitkan rasa penasaran untuk terus membuka lembar-lembar berikutnya. Hanya saja menurut saya, konflik kurang tergarap di akhir cerita. Tau tau hamil, lalu melahirkan. Andai perjuangan Asma saat hamil dan setelah melahirkan bisa lebih digambarkan dengan detail, saya siap kog meluangkan waktu untuk membaca novel super tebal dari bunda Asma :-D

Buat temen-temen yang belum baca... cepetan baca :-D luar biasa mengharukan! [end]
Meskipun belum membaca novelnya dan baru saja menyimak filem nyadiRCTI kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan dari ulasan di atas, sudah cukup menggambarkan bagaimana filem ini.
Begitu indah kisah cinta yang digambarkan difilemini. Sejujurnya hati ini sedang gundah kepedihan hati yang melanda karena perangai kekasih yang hadir tidak sesuai dengan angan, namun dari asalamualaikumbeijing aku belajar bahwa orang yang sekarang ada di sisi kita belum tentu menjadi orang yang berdiri diakhir hidup kita. Ini resensi yang kudapatdari sunber http://www.carabelajarbahasainggrisoke.com/2015/01/contoh-review-text-resensi-film-assalamualaikum-beijing-beserta-artinya.html Movie title   : Assalamu’alaikum Beijing
Genre            : Romantic-Religious
Director       : Guntur Soeharjanto
Playwritter : Asma Nadia
Cast                : Revalina S. Temat, Morgan Oey, Ibnu Jamil, Laudya C. Bella, Desta, Ollyne Apple, Cynthia Ramlan, Jajang C. Noer
Saya sangat menyukai semua novel yang ditulis oleh Asma Nadia. Sehingga ketika novel Assalamu’alaikum Beijing difilmkan, saya sudah tidak sabar menunggu film tersebut beredar di bioskop. Karena memang sudah pasti filmnya sangat berkualitas.Film ini disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Film dengan tagline “Jika tak kau temukan cinta, biarkan cinta menemukanmu”. Sesuai dengan judul Novelnya, film ini banyak membahas agama dan cinta. Sehingga dilabeli genre religi romantis. Film ini mengisahkan tentang kisah cinta yang dialamo oleh Asmara (Revalina S. Temat) yang patah hati karena mengetahui kekasihnya , Dewa (Ibnu Jamil) sempat berselingkuh dengan teman kerjanya Anita (Cynthia Ramlan) tepat sehari sebelum pernikahan akan dilangsungkan. Di saat bersamaan, akhirnya Asma menerima tawaran pekerjaan di Beijing berkat bantuan Sekar (Laudya Cynthia Bella). Di dalam perjalanan Asma bertemu dengan Zhongwen (Morgan Oey). Perlahan, Asma mulai membuka hati untuk Zhongwen. Namun sebelum hubungan keduanya berlanjut, Asma didiagnosa APS, sebuah sindrom yang membuat nyawanya terancam dan bisa meninggal setiap waktu.Alur ceritanya yang menarik, ditambah lagi dengan keindahan kota Beijing menambah nilai lebih dari film ini. Apalagi dibintangi oleh aktris dan aktor termana seperti Revalina S. Temat yang sudah malang melintang di dunia perfilman, Morgan Oey meskipun ini adalah debut pertamanya dalam film layar lebar, namun aktingnya patut diacungi jempol.

Intinya, film Assalamu’alaikum Beijing ini menjadi film yang wajib ditonton. Karena sangat berkualitas dan menginspirasi setiap penonton. Film ini sangat cocok buat kalian yang butuh motivasi untuk move on.

Monday, July 13, 2015

Makanan sashimi frog

Tokyo - Jepang punya kuliner ekstrem yang mungkin bisa membuat Anda merasa mual. Kalau punya nyali, cobalah menyantap frog sashimi yang berupa kodok masih hidup dengan setengah badan. Bahkan matanya masih berkedip sebelum dikunyah!

Traveler yang doyan makan, pasti tahu sashimi. Kuliner khas dari Jepang ini merupakan makanan laut yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap seperti kecap asin, parutan jahe, dan wasabi. Makanan lautnya biasanya ikan, udang atau kerang.

Namun, ada yang sashimi yang berbeda di kawasan Shinjuku di Tokyo. Sashimi yang populer di sana bukanlah yang berasal dari lautan, melainkan kodok. Ya, kodok yang dimakan mentah-mentah alias masih hidup.

Seperti tayangan pada video Youtube yang sudah banyak tersebar tentang frog sashimi, Kamis (5/3/2015) kodok yang disiapkan adalah yang berukuran besar. Pertama-tama, badan kodok dibelek menggunakan pisau yang tajam untuk dikeluarkan isinya. Setelah itu, kulitnya ditarik sampai lepas!

Kodok tersebut pun masih hidup, walau badannya hanya sisa setengah saja. Ketika diletakan di piring yang juga ditambahkan dengan irisan daging ikan segar mentah, matanya masih terlihat berkedip.

Bahkan, kodok itu masih bisa menggerakan tangannya. Tapi tenang, kodoknya tidak akan lompat dari piring yang sudah disajikan di depan Anda. Lalu, bagian kakinya dipotong lalu direbus untuk dijadikan sup.

Traveler yang memakan frog sashimi ini pun harus menggunakan sumpit. Cara makannya, tinggal buka mulut Anda dan kunyahlah badan kodok yang masih hidup tersebut. Soal rasa, silakan rasakan sendiri sensasinya!

Berikut cuplikan frog sashimi yang begitu digemari di kawasan Shinjuku. Sebentar, bagi Anda yang tak punya nyali atau gampang muntah, diharap tidak menontonnya:
Sumber

http://m.detik.com/travel/read/2015/03/05/124732/2850424/1520/1/3/wisata-kuliner-ekstrem-di-jepang-makan-kodok-hidup-hidup#pic_fotostory

Asal usul hubungan dayak dan banjar

Orang Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan: Asal Usul dan Perhubungan Mereka*(BB06)

27 Mei 2010 pukul 23:32

Oleh : Dr.Mohamed Salleh Lamry**

Kalimantan Selatan Selayang Pandang

Provinsi Kalimantan Selatan kini ialah provinsi yang terkecil dari empat provinsi di Kalimantan. Bagaimanapun, tidak demikian pada masa yang lalu. Sehingga tahun 1957 Kalimantan Selatan ialah provinsi besar, yang merupakan gabungan dari Wilayah Kotawaringan, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara. Kalimantan Selatan pada masa itu mengandungi provinsi yang kini dikenali sebagai Kalimantan Tengah.

Setelah orang Dayak di Kalimantan Tengah meminta provinsi mereka sendiri dengan melancarkan perang gerila dan mendapat sokongan dari Jakarta, mereka telah memperoleh provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1957. Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar dikeluarkan dari Kalimantan Selatan untuk membentuk provinsi Kalimantan Tengah. Sementara itu, Pasir (bahagian Federasi Kalimantan Tenggara) juga telah keluar dari Kalimantan Selatan dan bergabung dengan Kalimantan Timur. Dengan itu, Kalimantan Selatan kini hanya terdiri daripada Daerah Banjar dan sebahagian dari daerah Federasi Kalimantan Tenggara.

Walaupun kini Kalimantan Selatan merupakan provinsi yang terkecil, tetapi provinsi ini adalah provinsi yang paling padat penduduknya. Mengikut sensus penduduk tahun 2000 Kalimantan Selatan mempunyai penduduk 2,975,440 orang, sementara luas wilayah yang mereka diami hanya 37,660 km atau 14,000 batu persegi (Muller 1992).

Mengikut sensus 2000 juga, ada delapan etnik terbanyak di Kalimantan Selatan, iaitu Suku Banjar (2,271,586 orang), suku Jawa (391,030 orang), Suku Bugis (73,037 orang), Suku Madura (36,334 orang) Suku Bukit (35,838 orang), Suku Mandar (29,322 orang), Suku Bakumpai (20,609 orang), dan Suku Sunda (18, 519 orang). Suku lain, yang tidak dinyatakan namanya ialah 99,165 orang.

Dari data di atas, pada masa ini Suku Banjar ialah majoriti penduduk Kalimantan Selatan, sementara Suku Dayak (Bukit dan Bakumpai) kurang sepertiga dari jumlah Suku Banjar. Sebelum tahun 1957, ketika Kalimantan Tengah masih merupakan sebahagian daripada Kalimantan Selatan, jumlah Suku Dayak tentulah lebih banyak lagi.

Secara umum dapat dikatakan bahwa di Kalimantan (termasuk Kalimantan Selatan) suku Dayak menghuni kawasan pedalaman, sementara daerah pantai atau daerah hilir yang mengitari kawasan itu di huni oleh suku Banjar, Jawa, Bugis dan suku lainnya (Masri Singarimbun 1996: 258).

Asal Usul Orang Banjar

Portret van de ronggo van Banjarmasin met gevolg en kinderen 1860.
Sumber : Troopen Museum, Amsterdam.
Mengenai asal usul orang Banjar, pada masa ini sekurang-kurangnya ada dua pendekatan yang cuba menerangkan fenomena tersebut. Pertama, pendekatan primordialisme yang dikemukakan oleh Alfani Daud. Kedua, pendekatan konstruktifis atau situasionalis yang pada mulanya dikemukakan oleh Idwar Saleh (1986), kemudian dikembangkan oleh Marko Mahin (2004).

Mengikut Alfani Daud (1997; 2004: 85) suku bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah provinsi Kalimantan Selatan, yaitu selain kabupaten Kota Baru. Mereka itu diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali, dan setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran yang datang kemudian, akhirnya terbentuklah setidak-tidaknya tiga sub-suku, iaitu Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala.

Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah sungai-sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus. Orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan oang Banjar Kuala mendiami daerah sekitar Banjarmasin dan Martapura.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya ialah bahasa Melayu – sama halnya seperti ketika mereka berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya – yang di dalamnya terdapat banyak sekali kosa kata yang berasal dari kosa kata Dayak dan Jawa.

Nama Banjar diperoleh kerana mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau dianggap sebagai Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada masa mula-mula didirikan. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama Banjar tersebut nampaknya sudah diterima umum dan tidak berubah lagi.

Dari segi agama, boleh dikatakan semua orang Banjar memeluk agama Islam. Dan mereka pada umumnya ialah orang yang taat menjalankan perintah agamanya.

Mengikut Idwar Saleh (1986: 12) pula, sebelum dan pada awal berdirinya Kesultanan Islam Banjar, baik etnik Banjar maupun etnik Dayak sama sekali tidak disebut. Hal itu bererti, Banjar, pada waktu itu belum menjadi identiti suku atau agama, dan hanya sebagai identiti diri yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Dengan itu, Idwar Saleh menyimpulkan:

Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maayan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maayan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton….Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, kerana kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar iaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan kelompok Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang Sungai Tabalong dari muaranya di Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan- etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan- etnik Maayan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan- etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, iaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya.

Selanjutnya menurut Idwar Saleh (1991):

Ketika Pangeran Samudra mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti Patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru iaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis, tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

Maka, berdasarkan pendapat Idwar Saleh (1991) dapat diambil kesimpulan, bahawa suku Banjar terbahagi kepada 3 subetnis berdasarkan wilayah tempat tinggal mereka dan unsur pembentuk suku itu, yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak:

1. Banjar Pahuluan ialah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok).
2. Banjar Batang Banyu ialah campuran Melayu, Maayan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai cirri kelompok)
3. Banjar Kuala ialah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maayan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok).

Adalah diakui pendapat yang dikemukakan oleh Alfani Daud dan Idwar Saleh masing-masingnya mempunyai kekuatan yang tersendiri. Namun, tulisan-tulisan terakhir tentang asal usul orang Banjar saya dapati lebih banyak yang memihak kepada pendapat Idwar Saleh. Misalnya, tim penelitian dari Departmen Pendidikan dan Kebudayaan (1977-78: 17) merumuskan bahawa Suku Banjar yang terdiri dari Banjar Kuala, Banjar Batang Banyu dan Banjar Hulu adalah bentukan dari Suku Dayak Maayan, Dayak Lawangan, Dayak Bukit Meratus dan Dayak Ngaju. Melalui proses pembauran yang memakan waktu berabad-abad, kelompok Dayak yang menggunakan bahasa Banjar, beragama Islam dan bercampur dengan suku Melayu dan Jawa lambat laun dalam kerajaan Banjar menjadi Suku Banjar, sementara yang tidak memeluk Islam dan tidak berbahasa Banjar, tetap menyebut diri mereka sebagai Dayak.

Asal Usul Orang Dayak

Orang-Boekit uit de Afdeeling Amoentai, 1881.
Sumber : KITLV Leiden.
Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan. Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231). Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):

"…semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu."

Adalah dipercayai bahawa penduduk Yunnan pada masa itu melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang dianggap paling dapat memberikan kebebasan bergerak utnuk mencari nafkah, khususnya untuk berladang dan berburu. Rupanya perpindahan itu tidak hanya sekali terjadi, tetapi berlangsung secara bertahap, seperti dikatakan Coomans (1987:3):

Kelompok-kelompok pertama yang masuk wilayah Kalimantan ialah kelompok Negrid dan Weeddid, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kemudian disusul oleh kelompok yang lebih besar, yang disebut Proto Melayu. Perpindahan ini berlangsung lagi selama 1000 tahun, antara 3000-1500 sebelum Masehi.

Lebih lanjut disebutkan bahawa, “Sekitar lima ratus tahun sebelum Masehi berlangsung lagi suatu perpindahan besar dari daratan Asia ke pulau-pulau Indonesia. Kelompok-kelompok ini disebut Deutro-Melayu” (Coomans 1987: 4).

Mengikut Tjilik Riwut (1993: 231) Orang Proto Melayu (Melayu Tua) pada mulanya mendiami kawasan pantai. Akan tetapi, dengan kedatangan orang Melayu Muda, orang Melayu Proto terdesak ke pedalaman, sama ada kerana kalah perang atau kerana kebudayaan Melayu Tua lebih rendah jika dibandingkan dengan Melayu Muda. Kelompok Melayu Muda khasnya, sudah hidup menetap dalam satu komuniti, (seperti rumah panjang), dan mengenal teknik pertanian lahan kering, iaitu berladang.

Seorang penulis lain, Ch.F.H.Dumont (dipetik dari Tjilik Riwut 1993: 191) merujuk khusus kepada perpindahan orang Dayak ke pedalaman, seperti berikut:

Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat. Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan.

Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama ada dalam bahasa mahu pun dalam ciri-ciri budaya mereka.

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.
Perhubungan Orang Banjar dan Dayak Masa Lalu

Sejak munculnya kerajaan Islam Banjar pada tahun 1526, hubungan antara orang Banjar dengan orang Dayak mungkin tidaklah begitu berbeza dengan hubungan kerajaan Islam yang lain dengan orang Dayak di Kalimantan pada keseluruhannya. Meminjam kata-kata seorang ahli antropologi kolonial van Linden (Djuweng 1996: 3 dalam Yeti Maunati 2004:311) nasib orang Dayak adalah dijajah, bukan memerintah. Selama berabad-abad, orang Dayak sudah menjadi bawahan politik kepada kekuasaan lokal, nasional dan kolonial.

Secara lebih khusus, hubungan antara Kesultanan Banjar dengan orang Dayak mungkin ada persamaannya dengan hubungan antara Kesultanan Kutai dengan orang Dayak di Kalimantan Timur. Mengikut Magenda 1991: 2) sebelum masa penjajahan Belanda, wilayah kekuasaan Kesultanan Kutai meliputi orang Dayak di pedalaman, malah pada akhir abad ke-15, kesultanan itu sesungguhnya sudah menjadi persekutuan yang longgar yang terdiri daripada komuniti Dayak dengan seorang raja Melayu dipuncak kekuasaannya. Namun, Kesultanan Kutai yang baru pada awal abad ke-16 adalah kesultanan Melayu par excellence, serupa dengan kesultanan Melayu lainnya didaerah Pesisir Sumatra dan Kalimantan.

Baik Magenda (1991) mahupun Rousseau (1990) menyatakan bahawa orang Kutai berusaha menguasai orang Dayak, tetapi mereka tidak dapat melakukan sepenuhnya kerana orang Dayak boleh berpindah lebih jauh ke pedalaman. Keadaan demikian diperkirakan berlaku juga di Kalimantan Selatan dalam perhubugan antara orang Banjar dengan orang Dayak

Malah, di Kalimantan Selatan pernah berlaku pemberontakan oleh suku Dayak terhadap Sultan Banjamasin, Sultan Sulaiman pada tahun 1824-1825. Pemberontakan itu dilakukan oleh orang Dayak Bakumpai, di bawah pimpinan Pembakal (Kepala) Kendet, ketua mereka. Walaupun isterinya adalah keluarga Sultan, tetapi sejak 1816 lagi hubungannya dengan Sultan tidak begitu baik. Sultan tidak berupaya menundukkannya, dan ia hanya dapat dikalahkan dengan bantuan Belanda pada tahun 1825. Ia dijatuhkan hukuman mati pada 7 Maret di tahun tersebut (Helius Sjamsudddin 2001: 50).

Walau bagaimanapun, dalam sejarah Kalimantan Selatan hubungan antara orang Banjar dengan orang Dayak juga dicirikan oleh hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan, kerana adanya perkahwinan yang kerap antara Raja Banjar dengan puteri Dayak. Misalnya, dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju diketahui bahawa isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawang adalah etnik Dayak Ngaju. Isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan suku Dayak. Maayan, berasal dari etnik mereka. Dalam Hikayat Banjar pula ada disebut bahawa salah seorang isteri Raja Banjar ketiga, Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, iaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim puteri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik takhta dengan gelaran Sultan Mustainbillah. Puteri Dayak berikutnya ialah isteri Raja Banjar kelima, Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh, Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Abdulrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang puteri Dayak berdarah campuran Cina, iaitu Nyai Dawang.

Sementara itu, dari perkawinan Pangeran Antasari dengan Nyai Fatimah, saudara perempuan Tumenggung Surapati kepala suku Dayak Siang Murung, lahir Sultan Muhamad Seman, yang kemudian meneruskan perjuangan ayahnya menentang Belanda, sehingga gugur oleh peluru Belada pada tahun 1905. Dalam masa perjuangan itu, Muhammad Seman telah mengahwini dua puteri Dayak dari suku Dayak Ot.Danum. Anak Sultan Muhamad Seman, Gusti Berakit juga mengahwini puteri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong pada tahun 1906.

Hubungan persahabatan yang erat antara orang Banjar dengan Dayak jelas kelihatan apabila kedua-dua suku itu berjuang bersama-sama melawan Belanda dalam Perang Banjar (1858-1905). Meskipun ketika berlakunya peperangan itu tidak dinafikan ada ketua suku Dayak yang berpihak di sebelah Belanda, tetapi penyertaan dan sokongan suku Dayak dalam Perang Banjar itu nampaknya sangat terserlah. Dalam peperangan yang memakan masa yang agak panjang itu, ramai pahlawan perang itu terdiri daripada etnik Dayak, antaranya yang paling menonjol ialah Tumenggung Surapati, Panglima Batur (dari suku Dayak Siang Murung), panglima Unggis, Panglima Sogo, Panglima Batu Balot (seorang wanita), dan panglima Wangkang (dari suku Dayak Bakumpai).

Pada zaman kolonial Belanda pula, hubungan persaudaraan dan ikatan keluargaan antara orang Banjar dengan orang Dayak masih berterusan. Namun, berbanding dengan orang Dayak, lebih banyak orang Banjar yang berpeluang memasuki birokrasi kolonial, sekurang-kurangnya sebagai pegawai rendah. Dengan itu, orang Dayak terus menjadi subordinat kepada orang Banjar yang menjadi pegawai kerajaan kolonial itu seperti pada zaman Kesultanan juga.

Hubungan Orang Banjar dan Dayak Masa Kini

Walaupun orang Banjar dan orang Dayak berasal dari masa silam yang sama, tetapi kini masa silam yang sama itu mungkin tidak penting lagi. Yang lebih menonjol kini ialah identitas yang baru – orang Banjar dan orang Dayak adalah dua kumpulan etnik yang berbeda Dan atas identiti baru itu, dua suku yang bertetangga – Banjar dan Dayak -- telah terlibat dengan persaingan dalam pelbagai bidang kehidupan. Dengan itu, Hairus Salim (1996: 227) menganggap bahawa hubungan orang Banjar dengan orang Dayak kini ialah hubungan yang “tak selalu mesra”.

Hubungan orang Banjar dengan orang Dayak yang tidak selalu mesra itu telah diungkapkan oleh Anna Lowenhaupt Tsing (1993), seorang ahli antropologi dari Universiti California, dalam kajiannya tentang Dayak Meratus atau Dayak Bukit, yang banyak bermukim di sekitar pergunungan Meratus di Kalimantan Selatan.

Walaupun “hubungan kultural” antara orang Banjar dan Dayak telah “terputus” apabila “Banjar” ditegaskan sebagai identiti mereka yang beragama Islam, dan orang Dayak pula ialah orang yang “bukan Islam”, tetapi menurut Tsing (1993) hubungan ekonomi dan politik yang berasaskan kawasan antara kedua-dua suku tetap berlangsung terus. Hubungan ekonomi dan politik yang berasaskan kawasan itu pada masa kebelakangan ini diatur oleh “pentadbiran negara”.

Dari segi ekonomi, orang Banjar sebenarnya terlibat dengan hubungan perdagangan yang intensif dengan suku Dayak Meratus, malah merekalah yang menjadi perantara bagi perkembangan ekonomi wilayah (Hairus Salim 1996: 230). Orang Banjar mendominasi pasar minggu kecil dihujung jalur yang menuju pegunungan Meratus. Keperluan-keperluan suku Dayak seperti pakaian, garam, perkakas logam dan barang-barang mewah lainnya disalurkan oleh orang Banjar. Sementara itu dengan berjalan kaki atau naik rakit, orang Dayak Meratus datang ke pasar tersebut untuk menjual rotan, getah, kacang, kayu ulin, kayu kemenyan dan hasil-hasil hutan yang lain kepada orang Banjar, yang kemudian menjualnya juga ke bandar.

Walau bagaimanapun, hubungan perdagangan antara orang Banjar dengan orang Dayak itu berlangsung dalam keadaan yang sangat tidak seimbang. Sebagai perantara, orang-orang suku Banjar mempunyai kedudukan tawar menawar yang lebih tinggi. Mereka boleh menetapkan harga mengikut kemahuan mereka, yang menyebabkan suku Dayak Meratus selalu merasa dirugikan. Akan tetapi, orang Dayak tidak dapat berbuat apa-apa, kerana mereka tidak mempunyai pilihan lain.

Selain itu, orang-orang Dayak Meratus juga tidak berpuas hati kerana mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mendapatkan kredit daripada pedagang Banjar; jauh dari pemilik sarana pengangkutan, truk atau motorboat, gudang, dan tempat pengeringan getah, yang semuanya dimiliki oleh orang Banjar; tidak mempunyai jaringan untuk mendapatkan modal, kemudahan-kemudahan penyimpanan, dan tempat tinggal di bandar Banjarmasin; akses yang sangat terbatas untuk mengetahui keadaan pemasaran dan seterusnya (Tsing 1993: 55-56).

Perhubungan perdagangan yang tidak seimbang itu, diperkuatkan pula oleh hubungan orang Banjar yang rapat dengan “negara”. Orang Banjar adalah penguasa politik pada peringkat wilayah. Bahkan kepentingan negara di kalangan suku Dayak diartikulasikan oleh kepentingan-kepentingan suku Banjar. Di daerah Meratus, ‘’kepentingan negara” menjelma menjadi kepentingan orang Banjar. Ini ialah kerana pegawai-pegawai pemerintah pada peringkat kabupaten dan kecamatan, dan pegawai tentera, pertanian dan kesihatan yang melakukan hubungan dengan orang Dayak ialah orang-orang suku Banjar. Dengan itu, negara dan kepentingan nasional tampil di kalangan Dayak Meratus dengan wajah Banjar.

Wajah “negara” dalam artikulasi kepentingan suku Banjar itu diperlihatkan Tsing (1991) misalnya dalam dasar negara mengenai pembangunan masyarakat terasing pada tahun 1970-an. Dalam pentadbiran dasar itu, pada tahun 1971 suku Dayak Meratus dimasukkan sebagai salah satu dari masyarakat terasing. Maka pegawai pemerintah yang kebanyakannya terdiri daripada orang Banjar telah membuka hutan untuk menjadi tempat tinggal baru bagi orang Dayak Meratus. Bagaimanapun, dengan pembukaan hutan itu, orang Banjar juga mendapat kesempatan untuk berpindah ke kawasan baru tersebut, dengan jaminan mendapat perkhidmatan dan tanah. (Tsing 1991: 45). Sebagai akibatnya, tidak lama selepas itu, pemukiman baru itu telah didominasi oleh orang Banjar, kerana penguasaan mereka terhadap jalur perdagangan dan politik wilayah. Sementara itu, orang Dayak Meratus sendiri terus tersingkir, bahkan kemudian banyak yang pulang ke tempat mereka yang asal.

Tidak dinafikan masyarakat Dayak Meratus berpeluang mengenal kemajuan melalui pelbagai dasar negara yang diartikulasikan oleh pegawai pemerintah dari suku Banjar. Mereka mempelajari ekonomi global daripada pedagang Banjar. Orang Meratus juga mengenali birokasi negara di tingkat wilayah melalui orang Banjar. Akan tetapi, hubungan itu tetap bersifat artifisial, kerana dalam banyak hal justru membuat orang Dayak semakin jatuh dan jauh terpinggir dari yang mereka alami sejak zaman pra-kolonial dan kolonial (Hairus Salim 1996: 231).

Perhubungan orang Banjar dengan orang Dayak masa kini memasuki tahap yang baru, apabila mulai tahun 2000, suku Dayak Meratus terlibat dengan konflik yang agak serius dengan golongan penguasa Kalsel yang terdiri daripada orang Banjar. Hal ini berkaitan dengan dasar dan tindakan Sjachriel Darham, Gubernor Kalsel masa itu yang nampaknya tidak mengambil kira kepentingan orang Dayak. Sjachriel Darham telah membenarkan sebahagian Hutan Lindung Pegunungan Meratus, tempat tinggal orang Dayak, seluas 46,270 hektar, diberikan kepada perusahaan perkebunan berskala besar, PT Kodeco Group, yang berasal dari Korea Selatan.

Sebagaimana yang diketahui suku Dayak Meratus telah mendiami kawasan pegunungan Meratus itu sejak turun temurun. Hutan itu merupakan sumber kehidupan mereka, kerana memang di situlah tempat tinggal mereka sejak lama. Oleh itu, sudah tentu suku Dayak Meratus tidak menyetujui Hak Pengusahaan Hutan (HPT) kawasan hutan itu diserahkan kepada pengusaha besar. Apatah lagi pemberian konsesi kepada perusahaan dari Korea itu akan melibatkan alih fungsi sebahagian kawasan pergunungan Meratus dari hutan lindung kepada hutan produksi.

Oleh itu, mendengar kawasan hutan lindung itu akan dijadikan kawasan Hak Penguasaan Hutan (HPH) Kodeco, ratusan warga masyarakat Dayak Meratus berkali-kali turun ke Banjarmasin untuk mengadakan tunjuk perasaan, sama ada kepada DPRP mahupun kepada Gabenor sendiri. Sejak tahun 1998 hingga awal 2000 dikatakan lebih 20 kali warga pedalaman itu mengadakan tunjuk perasaan ke Banjarmasin dengan tuntutan yang sama: menolak kawasan Meratus dijadikan kawasan HPH. Namun, tuntutan mereka tidak pernah diberi perhatian yang sewajarnya. (Kompas,1 Ogos 2001).

Tuntutan warga Dayak Meratus itu akhirnya didengar oleh beberapa LSM. Mereka memberi sokongan dengan membentuk Aliansi Meratus yang merupakan gabungan 33 LSM. Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Kalsel (LMMD-KS) dan LSM Telapak Indonesia yang beribu pejabat di Bogor juga memberi sokongan moral kepada warga Dayak Meratus dengan mengecam Pemda Kalsel.

Para aktivis itu jugalah yang meneruskan tuntutan warga Dayak Meratus, sama ada kepada Gabenor Sjachriel mahupun kepada DPRD tempatan. Namun, pihak Pemda bertindak balas untuk melumpuhkan gerakan itu dengan mengadukan Koordinator Aliansi Meratus, Hairansyah kepada pihak polis dengan tuduhan menghasut rakyat untuk mengadakan tunjuk perasaan.

Ketika isu yang berkaitan dengan pemberian sebahagian hutan lindung Pegunungan Meratus kepada perusahaan besar itu belum lagi selesai, timbul pula isu lain yang melibatkan kawasan yang sama, iaitu pemberian hak melombong kepada pengusaha perlombongan emas, PT Meratus Sumber Mas oleh pemerintah daerah. Tindakan pemerintah daerah ini mendapat tentangan daripada kira-kira 750 orang perwakilan dari 300 balai (rumah besar pusat kegiatan adat) yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan, yang mengadakan kongres selama empat hari, berakhir pada 26 Jun 2003 di Samarinda (Kompas 1 Julai 2003). Namun, penentangan warga Dayak Meratus itu nampaknya tidaklah mendapat perhatian yang sepatutnya daripada pemerintah daerah yang dikuasai oleh orang Banjar.

Oleh yang demikian, sebuah LSM terkenal yang prihatin tentang masalah alam sekitar, yaitu WALHI, dalam beritanya pada 2 Juni 2006 menyatakan:

"...Hutan Lindung Meratus, kawasan hutan asli yang masih tersisa di Propinsi Kalimatan Selatan, “rumah terakhir” masyararakat Dayak Meratus saat ini menjadi kawasan yang paling terancam. Saat ini pemerintah dan pengusaha tambang serta perkebunan skala besar melakukan berbagai cara, termasuk memecah masyarakat Dayak Meratus melalui perubahan tapal batas antar kabupaten, sayangnya kebutuhan masyarakat bertolak belakang dengan keinginan pemerintah daerah (Walhi 2006)."

Apabila disebut pemerintah daerah tentulah merujuk kepada orang Banjar, kerana orang Banjarlah yang merupakan penguasa pada peringkat tersebut. Ini bermakna konflik antara orang Dayak dengan orang Banjar masih berterusan.

Kesimpulan

Meskipun orang Banjar berasal dari orang Dayak, ataupun dari percampuran orang Dayak dengan pelbagai suku yang lain, tetapi setelah orang Banjar memeluk agama Islam dan menubuhkan kerajaan Islam Banjar, “perpisahan” antara kedua suku itu nampaknya sudah merupakan sesuatu yang berkekalan. Mungkin sejak zaman dahulu lagi, orang Dayak yang tidak memeluk agama Islam memilih tinggal di kampung yang berasingan dari kampung orang Banjar; di tempat yang umumnya terletak di pedalaman.

Kemunculan kerajaan Islam Banjar pada abad ke-16, nampaknya menandakan bermulaanya kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang Banjar, kerana orang Banjar adalah kelas pemerintah yang wilayah pemerintahannya meliputi juga kawasan yang didiami oleh orang Dayak. Kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang Banjar ini boleh dikatakan tidak berubah pada zaman penjajahan dan lebih jelas lagi pada zaman selepas kemerdekaan, kerana pada zaman selepas kemerdekaan memang orang Banjarlah yang menduduki jawatan penting dalam pemerintahan daerah, di samping mereka juga yang menguasai perdagangan yang melibatkan orang Dayak.

Jika kita lihat hubungan orang Banjar dengan orang Dayak pada masa mutakhir, hubungan mereka nampaknya bukan sahaja tidak mesra, malah sudah melibatkan konflik yang agak serius. Hubungan tidak mesra itu sudah kelihatan sejak lama, melibatkan golongan pedagang Banjar dan penguasa Banjar, yang jelas lebih berkuasa ke atas orang Dayak Kini timbul pula isu baru yang menimbulkan konflik, iaitu tindakan pemerintah daerah yang diketuai oleh Gabenor dari etnik Banjar yang memberikan kawasan hutan tempat tinggal orang Dayak Meratus kepada pengusaha perkebunan dan perlombongan besar.

Tidaklah dinafikan pemberian kawasan hutan untuk diusahakan oleh pengusaha besar itu ada juga faedahnya kepada orang Dayak, misalnya dari segi wujudnya peluang pekerjaan, dan mungkin terbinanya jalan yang akan menghubungkan kawasan tempat tinggal orang Dayak dengan kawasan bandar. Namun, sebagaimana yang terbukti dari kajian di tempat lain, (lihat Syarif Ibrahim Alqadrie 1994, 244-260; Patingi Y.A.Aris 1994, 261-66), kesan negatif dari aktiviti pembukaan kawasan hutan dan perlombongan itu kepada kehidupan penduduk setempat jauh lebih banyak dari kesan positifnya. Itulah sebabnya orang Dayak tidak menyetujui kawasan hutan tempat tinggal mereka diberikan kepada pengusaha besar.

Walau bagaimanapun, kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang Banjar nampaknya tidak memungkinkan mereka menentang dasar pembangunan penguasa Banjar yang merugikan mereka, dan dengan itu sangatlah sukar mereka keluar dari kehidupan mereka yang mundur dan terpinggir. Barangkali orang Dayak hanya mungkin keluar dari keadaan mundur dan terpinggir itu, setelah melalui satu masa yang agak lama, khasnya setelah mereka mencapai taraf pendidikan yang memadai dan dengan itu dapat menduduki jawatan penting dalam pemerintah daerah, sama ada dalam bidang birokrasi mahupun politik. Memang sebagaimana yang sering berlaku, orang Dayak hanya mungkin bermobiliti ke atas, walaupun agaknya secara beransur-ansur, melalui jalan pendidikan.

----------------
* Kertas kerja untuk Konferensi Antaruniversiti Se Borneo-Kalimantan Ke-3, Banjarmasin,
15-17 Jun 2007.
** Mantan Prof.Madya dan Sarjana Tamu, Program Antropologi dan Sosiologi, Universiti
Kebangsaan Malaysia

Rujukan:
Agama dan Etnisitas: Kajian Tentang Asal Usul Pembentukan Etnis Banjar.
Kandil. Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober
Alfani Daud. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa
Kebudayaan Banjar. Jakarta: Rajawali Press.
Alfani Daud. 2004. Islam dan Asal-Usul Masyarakat Banjar. Kandil.
Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober.
Coomans, M. 1987.Manusia Daya, Dahulu, Sekarang dan Masa Depan. Jakarta: PT
Gramedia.
Hairus Salim HS. 1996. Islam Banjar, Relasi Antar Etnik, dan Pembangunan. Dalam
Kisah dari Kampung Halaman . Yogyakarta: Penerbit Dian/Interfidei
Hudson, A.D. & Judith M.Hudson. 1984. Telang: Sebuah Desa Ma’ayan di
Kalimantan Tengah. Dalam Koentjaraningrat (pnyt.) Masyarakat Desa di
Indonesia Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Hudson, A.B. 1972. Padju Epat: The Ma’anyan of Indonesian Borneo. New York:
Holt, Rinehart and Winston.
King.V.T. 1994. The Ethnic Groups of Borneo. Kuala Lumpur: S. Abdul Majeed &
Co.
King.V.T. 1985. Kedudukan Sosial dan Perubahan Sosial di Kalangan Suku Maloh,
Kalimantan Barat. Dalam Dove, M.R (pnyt.) Peranan Kebudayaan Tradisional
dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kompas. 2001. Meratus Nasibmu Kini… Kompas, 1 Ogos,
.http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/mera26.htm
Kompas. 2001. Masyarakat Dayak Meratus Diobok-obok. Kompas, 1 Ogos.
http://www/. kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/masy26.htm
Kompas 2001. Hutan Lindung Meratus Bakal Tamat. Kompas, 1 Ogos.
http://www/. kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/huta25.htm
Kompas.2001. Dayak Meratus Tolak Pembukaan Hutan. Kompas, 15 Disember.
http://www.kompas.com/kompak-cetak/0112/15/iptek/daya10.htm.
Marko Mahin. 2004. Urang Banjar: Identitas dan Etnisitas di Kalimantan Selatan.
Kandil. Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober.
Masri Singarimbun. 1996. Penduduk dan Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Miles, D. 1976. Cutlass and Crescent Moon: A Case Study of Social dan Political
Change in Outer Indonesia. Sydney: Centre for Asian Studies University of
Sydney.
Mubyarto dkk. 1991. Kajian Sosial Ekonomi Desa-Desa Perbatasan di Kalimantan
Timur. Yogyakarta: Aditya Media.
Muller, K. 1992. Dalam D.Pickell (editor) Indonesian Borneo Kalimantan.
Singapore: Periplus Editions.
Patingi Y.A.Aris. Pengaruh HPH Terhadap Sumber Daya Alam dan Kehidupan
Masyarakat di Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang. Dalam Paulus
Florus dkk. (pnyt.) Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta:
PT. Grasindo.
Sellato, B. 2002. Innermost Borneo: Studies in Dayak Cultures. Paris: Seven Orients,
& Singapore: Singapore University Press.
Stepanus Djuweng. 1996. Orang Dayak, Pembangunan dan Agama Resmi. Dalam
Kisah dari Kampung Halaman. Yogyakarta: Penerbit Dian/Interfidei
Syarif Ibrahim Alqadrie. 1994. Dampak Perusahaan Pemegang HPH dan
Perkebunan Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Penduduk
Setempat di Daerah Pedalaman Kalimantan Barat. Dalam Paulus Florus dkk
(pnyt.) Kebudayaan Dayak. Jakarta: Penerbit PT.Grasindo.
Tjilik Riwut.1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta:
PT.Tiara Wacana.
Tsing, A.L. 1998. Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi Pada
Masyarakat Terasing. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Walhi.2006.http://walhi.or.id/kampanye/hutan/shk/060602_dykmeratus_sp/?&printer_friendly=t%E2%80%A6
Yekti Maunati. 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan.
Yogyakarta: LKiS 

Wednesday, July 1, 2015

Argatha kota didalam bumi is true or not?

Menurut seorang pelaut Norwegia bernama Olaf Jansen didalam buku biografinya "The Smoky God" menjelaskan bahwa 
Agartha adalah nama sebuah kota didalam hollow earth. Willis Emerson seorang penulis yang juga menulis kisah perjalanan Jansen didalam buku "Agartha - Secrets of the Subterranean Cities" menjelaskan bagaimana sekoci Jansen berlayar melalui pintu masuk interior bumi di Kutub Utara.

Selama dua tahun ia tinggal bersama penduduk koloni Agharta. Dunia ini diterangi oleh matahari yang lebih berasap, dia menyebutnya "smoky sun". "Shamballa" adalah pusat pemerintahan di Agharta. 
Cukup aneh memang bagi kita para orang awam, seperti cerita yang dibuat-buat. Terlalu banyak pertanyaan yang membuat kita penasaran. Saya lanjutkan....

Selama dua tahun tinggal di Agharta, Jansen mendapatkan banyak informasi yang mengejutkan. Menurut mereka, Agharta dulunya juga berada dipermukaan (kerak bumi), namun karena perang dahsyat yang terjadi pada masa itu menenggelamkan mereka kedalam bumi. Mereka mengaku Agharta adalah sisa-sisa peradaban Atlantis dan Lemuria.

Dahulu Atlantis dan Lemuria adalah dua kota terbesar dan termaju. Kemudian kedua bangsa ini bertempur, berperang dahsyat. Perang Thermo Nuclear yang dilancarkan kedua bangsa menyebabkan keduanya hancur dan jatuh kedalam bumi. Sisa-sisa pertempuran Atlantis dan Lemuria masih ada di permukaan, yaitu Gurun Sahara, Gurun Gobi, Bagian selatan Australia, dan Gurun di AS.
Agharta, The Subterranean World

By: Dr. R. W. Bernard, B.A., M.A., Ph.D.

The word "Agharta" is of Buddhist origin. It refers to the Subterranean World or Empire in whose existence all true Buddhists fervently believe. They also believe that this Subterranean World has millions of inhabitants and many cities, all under the supreme domination of the subterranean world capital, Shamballah, where dwells the Supreme Ruler of this Empire, known in the Orient as the King of the World. It is believed that he gave his orders to the Dalai Lama of Tibet, who was his terrestrial representative, his messages being transmitted through certain secret tunnels connecting the Subterranean World with Tibet.

Similar mysterious tunnels honeycomb Brazil. Brazil in the West and Tibet in the East seem to be the two parts of the Earth where contact between the Subterranean World and the surface world may be most easily achieved, due to the existence of these tunnels.

The famous Russian artist, philosopher and explorer, Nicholas Roerich, who traveled extensively in the Far East, claimed that Lhasa, capital of Tibet, was connected by a tunnel with Shamballah, capital of the subterranean empire of Agharta. The entrance of this tunnel was guarded by lamas who were sworn to keep its actual whereabouts a secret from outsiders, by order of the Dalai Lama. A similar tunnel was believed to connect the secret chambers at the base of the Pyramid of Gizeh with the Subterranean World, by which the Pharaohs established contact with the gods or supermen of the underworld.

The various gigantic statues of early Egyptian gods and kings, as those of Buddha found throughout the Orient, represent subterranean supermen who came to the surface to help the human race. They are generally represented as sexless. They were emissaries of Agharta, the subterranean paradise which it is the goal of all true Buddhists to reach.

Buddhist traditions state that Agharta was first colonized many thousands of years ago when a holy man led a tribe which disappeared underground. The gypsies are supposed to come from Agharta, which explains their restlessness on the Earth’s surface and their continual travels to regain their lost home. This reminds one of Noah, who was really an Atlantean, who saved a worthy group prior to the coming of the flood that submerged Atlantis. It is believed that he brought his group to the high plateau of Brazil where they settled in subterranean cities, connected with the surface by tunnels, in order to escape from poisoning by the radioactive fallout produced by the nuclear war the Atlanteans fought, which brought on the flood that submerged their continent.

The aubterranean civilization oi Agharta is believed to represent a continuation of Atlantean civilization, which, having learned the lesson of the futility of war, remained in a state of peace ever since, making stupendous scientific progress uninterrupted by the setbacks of recurrent wars, as our surface civilization has been. Their civilization is many thousands of years old (Atlantls sank about 11,500 years ago), while ours is very young, only a few centuries old.

Subterranean scientists are able to wield forces of nature we know nothing about, as demonstrated by their flying saucers, which are operated by a new, unknown source of energy, more subtle than atomic energy. Ossendowski claims that the Empire of Agharta consists of a network of subterranean cities connected with each other by tunnels through which vehicles pass at tremendous speed, both under land and under the ocean.

These people live under the benign reign of a government headed by the King of the World. They represent descendants of the lost continents of Lemuria and Atlantis, as well as the original perfect race of Hyperboreans, the race of gods.

During various epochs in history, the Aghartan supermen or gods came to the surface to teach the human race and save it from wars, catastrophies and destruction. The coming of the flying saucers soon after the first atomic explosion in Hiroshima represents another such visitation, but thls time the gods themselves did not appear among men, but they sent their emissaries.

The Indian epic, "Ramayana" describes Rama as such an emissary from Agharta coming on an aerial vehicle, which was probably a flying saucer. A Chinese tradition speaks of divine teachers coming on aerial vehicles. Similarly, the founder ot the Inca dynasty, Manco Copac, came the same way.

One of the greatest of Aghartan teachers in America was Quetzalcoatl, the great prophet of the Mayas and Aztecs and of the Indians of the Americas in general, both in South and North America. That he was a stranger among them, coming from a different race (Atlantean) is indicated by his being fair, while they were dark; his being tall, while they were short; his being bearded, while they were beardless. He was reverenced as a savior by the Indians of Mexico, Yucatan and Guatemala long before the coming of the white man. The Aztecs called him "God of Abundance" and the "Morning Star." His name Quetzalcoatl means "Feathered Serpent," meaning a teacher of wisdom (symbolized by the serpent) who flies. He was given this name because he came on an aerial vehicle, which appears to have been a flying saucer. He probably came from the Subterranean World, because after he remained some time with the Indians, he mysteriously vanished the same way as he came; and was believed to have returned to the Subterranean World from which he came.

Quetzalcoatl is described as having been "a man of good appearance and grave countenance, with a white skin and beard, and dressed in a long flowing white garment. He was also called Huemac, because of his great goodness and continence. He taught the Indians the way of virtue and tried to save them from vice by giving them laws and counsel to restrain them from lust and to practice chastity. He taught pacifism and condemned violence in all forms. He instituted a vegetarian diet, with corn as a principal food, and taught fasting and body hygiene. According to the South American archeologist, Harold Wilkins, Quetzalcoatl was also the spiritual teacher of the ancient inhabitants of Brazil.

After remaining some time with the Indians, and seeing how little they cared to follow his teachings, except his recommendation to plant and eat corn as a basic food in place of meat, Quetzalcoatl departed, telling them that some day he would return. That this "visitor from Heaven" left the same way in which he came - on a flying saucer - is indicated by the following facts. When Cortez invaded Mexico, the emperor Montezuma believed that the predicted "return of Quetzalcoatl" had occurred, because a fireball then gyrated over Mexico City, making the people wail and scream, setting the temple of the war god on fire. This fireball was believed to have been the flying saucer on which Quetzalcoatl traveled.

Osiris was another such subterranean god. According to Donnelly, in his book, "Atlantis the Antediluvian World," the gods of the ancients were the rulers of Atlantis and members of a superhuman race which governed the human race. Before the destruction of their continent, which they foresaw, they traveled by flying saucer through the polar opening to the Subterranean World in the hollow interior of the earth, where they continued to live ever since.

"The Empire of Agharta," wrote Ossendowski in his book "Beasts, Men and Gods," "extends through subterranean tunnels to all parts of the world." In this book he speaks of a vast network of tunnels constructed by a prehistoric race of remotest antiquity, which passed under both oceans and continents, through which swift-moving vehicles traveled. The empire of which Ossendowski speaks and concerning which he learned about from lamas in the Far East, during his travels in Mongolia, obviously consists of subterranean cities inside the earth’s crust, which should be differentiated from those existing in its hollow center. Thus there are two subterranean worlds, one more superficial and one in the center of the earth.

Huguenin, whose book on flying saucers and the subterranean world we previously mentioned, believes that there exist many subterranean cities at various depths, between the earth’s crust and its hollow interior. Concerning the inhabitants of these subterranean cities, he writes:

"This other humanity has reached an elevated grade of civilization, economic and social organization and cultural and scientific progress, in comparison with which the humanity which lives on the earth’s surface are a race of barbarians."

In his book, Huguenin shows a diagram of the earth’s interior, showing various subterranean cities at various depths, connected with each other by tunnels. He describes these cities as existing in immense cavities in the earth. The city of Shamballah, the capital of the subterranean empire, he portrays as existing at the center of the earth, in its hollow interior, rather than inside its solid crust.Ossendowski writes:

"All the subterranean caverns of America are inhabited by an ancient people who disappeared from the world. These people and the subterranean regions where they dwell are under the supreme authority of the King of the World. Both the Atlantic and Pacific Oceans were once the home of vast continents which later became submerged; and their inhabitants found refuge in the Subterranean World.The profounder caverns are illuminated by a resplendent light which permits the growing of cereals and other vegetables, and gives the inhabitants a long life-span free from disease. In this world exists a large population and many tribes."

In his book, "The Coming Race," Bulwer Lytton describes a subterranean civilization far in advance of our own, which existed in a large cavity in the earth, connected with the surface by a tunnel. This immense cavity was illuminated by a strange light which did not require lamps to produce it, but appeared to result from an electrification of the atmosphere. This light supported plant life and enabled the subterranean people to grow their foods. The inhabitants of the Utopia, described by Lytton were vegetarians. They had certain apparatuses by which, instead of walking, they flew. They were free from disease and had a perfect social organization so that each received what he needed, without exploitation of one by another.

It is claimed that the earth’s crust is honeycombed by a network of tunnels passing under the ocean from continent to continent and leading to subterranean cities in large cavities in the earth. These tunnels are especially abundant in South America, especially under Brazil, which was the chief center of Atlantean colonization; and we may believe they were constructed by the Atlanteans. Most famous of these tunnels is the "Roadway of the Incas" which stretches for several hundred miles south of Lima, Peru, and passes under Cuzco, Tiahuanaco and the Three Peaks, proceeding to the Atacambo Desert. Another branch opens in Arica, Chile, visited by Madame Blavatsky.

It is claimed that the Incas used these tunnels to escape from the Spanish conquerors and the Inquisition, when entire armies entered them, carrying with them their gold and treasures on the backs of llamas, which they did when the Spanish Conquerors first came. Their mysterious disappearance at this time, leaving only the race of Quechua Indians behind, is also explained by their entering these tunnels. It is claimed that when Atahualpa, the last of the Inca kings, who was brutally murdered by Pizarro, the gold that was being carried to his ransom on a train of 11,000 pack llamas, found refuge in these tunnels. It is claimed that these tunnels had a form of artificial lighting and were built by the race that had constructed Tiahuanco long before the first Inca appeared in Peru.

Since the Incas who entered these tunnels to escape from the Spaniards were never seen since and disappeared from the earth’s surface, it is probable that they continued to live in illuminated subterranean cities to which these tunnels led.

These mysterious tunnels, an enigma to archeologists, exist in greatest number under Brazil, where they open on the surface in various places. The most famous is in the Roncador Mountains of northeast Matto Grosso to where Colonel Fawcett was heading when last seen. It is claimed that the Atlantean city for which he searched was not the ruins of a dead city on the surface but a subterranean city with still living Atlanteans as its inhabitants; and that he and his son Jack reached this city and are still living therein. This is the belief of Professor de Souza, Commander Strauss and O. C. Huguenin, whom we have mentioned before.

The Roncador tunnel opening is guarded by fierce Chavantes Indians who kill anyone who dares to enter uninvited and who might molest the subterranean dwellers whom they respect and reverence. The Murcego Indians also guard these secret tunnel openings leading to subterranean cities in the Roncador Mountain region of Matto Grosso. We quote a letter to the author from an American, named Carl Huni, who lived many years in Matto Grosso and made a special study of this subject:

"The entrance to the caverns is guarded by Murcego Indians, who are a dark-skinned, undersized race of great physical strength. Their sense of smell is more developed than that of the best bloodhounds. Even if they approve of you and let you enter the caverns, I am afraid that you will be lost to the present world, because they guard the secret very carefully and may not let those who enter leave. (This may have happened to Colonel Fawcett and his son Jack, who are believed to have entered a tunnel leading to a subterranean city in the Roncador Mountains, never to return.)

"The Murcego Indians live in caverns and go out at night into the surrounding jungles, but they have no contact with the subterranean dwellers below, inhabiting a subterranean city in which they form a seli-contained community and have a considerable population. It is believed that the subterranean cities they inhabit were first constructed by the Atlanteans. One thing is certain, that no radioactive fallout can reach them. No one knows whether those who live in these ancient Atlantean subterranean cities are Atlanteans themselves or others who settled there after their origlnal builders were gone.

"The name of the mountain range where these Atlantean subterranean cities exist is Roncador in northeast Matto Grosso. If you go in quest of these subterranean cities, take your life in your own hands as you may never be heard of again, like Colonel Fawcett.

"When I was in Brazil I heard a lot about the underground caverns and subterranean cities. They are, however, a long way from Cuiaba. They are near the Rio Araguaya, which empties into the Amazon. They are to the northeast of Cuiaba at the foot of the tremendously long mountain range named Roncador. I desisted to investigate further because I heard that the Murcego Indians jealously guard the entrance to the tunnels from people who are not sufficiently developed, because they do not want trouble. In the first place, they do not want anyone who is still enmeshed in commercialism and who has a desire for money.

"There are also caverns in Asia and Tibetan travelers mention them. But as far as I know, in Brazil are the biggest ones and they exist at three different levels. I am sure I would get permission if I wanted to join them and they would accept me as one of theirs. I know they use no money at all, and their society is organized on a strictly democratic basis. People do not become aged and live in everlasting harmony."

This subterranean Utopia mentioned by Mr Huni (now residing in New York) seems to resemble greatly the one described by Bulwer Lytton in his book, "The Coming Race." Lytton was a Rosicrucian and probably based his novel on occult information concerning existing subterranean cities.

The ruins of a number of Atlantean cities were found in northern Matto Grosso and the Amazon territory, indicating that Atlanteans once colonized this country. Some years ago an English schoolteacher, hearing rumors of a lost Atlantean city on a high plateau in this region went to find it. He did, but the hardships of the journey cost his life. Before he died he sent by carrier pigeon a note describing a magnificent city he discovered whose streets were lined by high gold statues.

sumber : http://www.bibliotecapleyades.net/ti...chapter7-2.htm

Mole people

TRIBUNJAMBI.COM - Sebuah penemuan mengejutkan terjadi di Amerika Serikat.

Satu kaum primitif yang di panggil Mole People hidup 20 mil di bawah tanah. Dengan menggunakan terowongan rahasia, mereka memasuki USA.
Penemuan ini telah dibuat bukan oleh ahli arkeologi, tetapi oleh saintis NASA yang menggali jauh ke dalam bumi, dan mereka mencoba menyembunyikan keberadaan kaum ini dari pengetahuan publik.

Pada awalnya, ada seorang pekerja NASA yang tidak mau disebut telah mengungkapkan gambar-gambar eksklusif and informasi mengenai kaum 'orang gua' ini. "Berita ini harus diberitahu," kata sumber itu. "ini terlalu besar untuk disimpan". Sumber itu telah mengungkapkan beberapa rahasia besar mengenai Mole People. "Mereka tampak ramah", beliau berkata, " Tetapi mereka amat primitif.

Kami mencoba berkomunikasi dengan mereka, tetapi sangat susah karena mereka tidak bisa bahasa inggris ". "Mole People, sebagaimana yang kami panggil", kata sumber itu.

Situasi ini dikendalikan dengan penuh hati-hati. "Jika salah langkah bisa mengakibatkan makhluk ini menyatakan perang dengan manusia di atas. Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka ini. Kami baru melihat satu kota sejauh ini, dengan perkiraan 2000 orang Mole tinggal di situ. "Tetapi ada pihak yang menyatakan bahwa mungkin jutaan orang Mole tinggal di kota-kota bawah tanah, bertebaran di bawah muka Bumi".

Makhluk menyeramkan di bawah tanah itu memiliki beberapa persamaan dengan manusia, dan juga sedikit perbedaan. "Seperti kita, mereka berjalan dengan dua kaki, tetapi mereka jauh lebih tinggi dari manusia biasa, setinggi 8 ke 10 kaki tinggi. Jari-jari mereka seperti kuku binatang.

Dan tangan mereka berselaput, dirancang untuk menggali." "Kulit mereka sangat kuat. Itu untuk menahan panas yang sangat di bawah bumi ".

MakalamSuper BallEkbisCity GuideCPNS BungoLifestyleJambi HeritageEpaperLainnya

Enjoy JambiAkomodasiKulinerDestinasiShoppingTicketingTribun Travel

Home » Internasional

Seram! Ribuan Makhluk Seram Hidup Dalam Tanah, Naik ke Atas Bumi

Selasa, 3 Maret 2015 19:48

+ Share

Net

Net

12

Dapat diamati bahwa terdapat hubungan dan interaksi di antara manusia dengan makhluk ini suatu ketika dahulu - mereka bercakap di dalam bahasa yang hampir sama dengan dialek Navajo Lama. Sumber itu juga menyatakan bahwa kaum Mole ini mempunyai sistem otot-otot yang sangat besar, membuat mereka mampu bertindak ganas. Kekuatan mereka 5 kali lipat lebih besar ketimbang manusia.

"Ada seorang anggota ekspedisi itu menyalakan rokok, kaum Mole menganggap itu sebagai satu ancaman dan terus menyerangnya". Mereka mencakar dan menyerang orang tersebut bagaikan kucing hutan. Untungnya dia selamat dan dapat bertahan hidup dari insiden itu.

Kaum Mole ini amat berminat dengan dunia atas muka Bumi - pakaian, peralatan dan makanan terutama. Mereka sangat menyukai buah-buahan segar.

NASA amat berminat untuk mempelajari kaum Mole. "Kami ingin tahu segala-galanya mengenai mereka - apa yang mereka makan, bagaimana mereka tinggal dan yang paling penting, apakah hubungan mereka dengan kaum manusia". Kami tertanya-tanya jikalau mereka itu ada kaitan dengan manusia di dalam aspek-aspek tertentu. Apakah mereka adalah nenek moyang manusia modern hari ini secara genetis?

Pakar berkata terdapat spekulasi yang beragam mengenai kaum Mole. Mereka boleh jadi apa saja, dari Yetis (Bigfoot), makhluk asing dari angkasa atau sisa orang yang selamat dari kota Atlantis Yang Hilang. Pakar juga berkata penemuan ini telah menimbulkan beberapa tanda tanya.

Lantas apakah makhluk itu musuh dan suka berperang ataupun peramah yang bisa diajak bekerjasama? Dan bagaimana dengan minyak dan penyimpanan mineral di bawah Bumi? Siapa yang memilikinya, kaum Mole atau kita? Bagaimana dengan NASA dimana misi asalnya adalah untuk meneliti ruang angkasa - telah menjumpai kaum yang hidup di bawah muka Bumi?.

Sejauh ini NASA telah menemukan pintu rahasia ke dunia bawah tanah di sekitar Washington State's Mount Shasta, gua Mammoth di Kentucky dan juga gua-gua yang bertebaran sekitar barat daya US mengikut kata sumber. Berabad lamanya manusia telah bercerita tentang keberadaan makhluk di bawah muka Bumi. Sekarang, untuk pertama kalinya, spekulasi itu telah dibuktikan kesahihannya. Tetapi apakah makhluk-makhluk ini kawan ataupun lawan masih tidak diketahui.

Style taylor swift di album blank space

Haiii pasti kenal dong gadis cantik ini? Ya dia kembaran saya huhu ( ngarep)  yup taylor swift udah ngeluarin albm loh disalahsatu video klipnya blank space taylor swift terlihat begitu cute dan simk inilah baju baju taylor swift yang cute abis loh

Legenda kota didalam bumi


Legenda menyebutkan ada kehidupan di bawah tanah, dan pintu masuknya terletak di kutub utara. Legenda itu muncul sejak zaman Plato yang berkeyakinan, bahwa di dalam bumi penuh dengan terowongan dan lubang. Apakah legenda itu benar?


Pemikiran adanya lubang di perut bumi sangat popular di antara penulis "science fiction". Bahkan beberapa penulis menunjukkan perhitungan estimasinya serta eksperimen untuk membuktikan planet bumi, memiliki lubang di dalamnya. Lalu apakah "science fiction" itu benar?

Doktor Ilmu Geologi dan mineral dari Russian Academy of Natural Sciences, Mark Sadikov mengatakan, manusia tidak akan bisa masuk ke dalam perut bumi, karena tidak ada lubang di kutub utara. Wilayah di utara merupakan zona laut dalam, dan terdapat palung di beberapa bagiannya.

Pejabat riset di Arctic and Antarctic Research Institute, Maria Gavrilo juga mengatakan, tidak pernah mendapatkan lubang di wilayah utara saat melakukan riset di wilayah tersebut. Bahkan, wilayah kutub utara sendiri merupakan lautan yang tertutup es secara penuh.

Di abad 21, kemungkinan adanya lubang itu diteliti kembali. Pakar pendukung teori lubang bumi menyebutkan medan magnet yang berbeda-beda sebagai indikasi. Mereka juga merujuk pada sinar aurora yang merupakan gas yang muncul di kutub.


Pendukung teori itu menyebut, kompas selalu bertingkah aneh saat mendekati kutub. Banyak peneliti juga menyebutkan angin hangat sering berhembus dari kutub utara yang kemungkinan berasal dari lubang besar yang ada di sana.

Maria Gavrilo membantah teori medan magnet. Ia menyebut medan magnet di kutub utara dan selatan terus bergerak meluas. Penelitian di dua kutub itu menunjukkan keduanya tidak stabil dan berpindah secara aktif.

Sementara munculnya aurora polaris merupakan fenomena unik yang dihasilkan oleh atom di bagian atas atmosfer. Aurora itu berbetuk zona oval di atas kutub.

Astronot dari ruang angkasa bisa mengamati bumi berpendar seperti halo di bulan. Namun, dari bumi cahaya itu hanya bisa dilihat di kutub. Aurora polaris bisa sangat besar diakibatkan oleh pengaruh interferensi sinyal radio.

Peneliti mengatakan, merupakan sesuatu yang normal kompas menjadi tidak terkendali saat mendekati kutub. Hal itu, karena medan magnet bumi sangat kuat di dekat kutub dan penunjukkan kompas yang tak karuan adalah usaha untuk menunjuk ke suatu arah tertentu.

Mayoritas ide lubang di dalam bumi lebih banyak berdasarkan asumsi dan bukan data ilmiah. Menurut penelitian, lubang yang mungkin ada hanya gua karst. Kehidupan di dalam bumi juga tidak mungkin, karena tidak cukup ruangan di bawah permukaan bumi.

Kedua tekanan dan suhu naik drastis di kedalaman tertentu. Saat tambang dibuat lebih dalam dari satu kilometer di Afrika, tempat itu harus dilengkapi pengatur suhu karena ruangan menjadi sangat panas.

Pendukung lubang di dalam bumi menyatakan, seharusnya planet memiliki bobot lebih besar jika tidak ada lubang. Tapi Maria Gavrilo mengatakan, saat menghitung berat bumi harus berdasarkan massa yang bukan diam tapi bergerak. Jika kenyataan itu diabaikan, maka penghitungan oleh peneliti akan mendapatkan hasil yang salah.

Teori planet bumi berlubang ini akan terus menjadi misteri. Karena hingga kini, lapisan bumi yang disebut lithosphere masih misteri, dan tidak ada orang. yang tahu apa yang ada di dalam lapisan yang lebih dalam dari lapisan ituhttp://budi3x.blogspot.com/2012/06/misteri-kehidupan-bawah-tanah.html

Terkuak sebab tanah berlubang misterius di siberia

Terkuak: Sebab Tanah Berlubang Misterius di Siberia Berdiameter 80 Meter

Sebuah lubang misterius muncul di Siberia dan membuat banyak spekulasi yang beredar tentang lubang tersebut. Mulai dari pemikiran secara ilmiah sampai dengan lubang tersebut ada sangkut pautnya dengan UFO.

Lubang besar yang memiliki diameter kurang lebih 80 meter dan tiba-tiba muncul di dekat hutan sekitar 30 kilometer dari Yamal, Siberia. Akibatnya, hal itu menggegerkan banyak pakar karena tidak ada yang mengetahui apa penyebab tanah di tempat tersebut bisa berlubang sedemikian rupa.

Spekulasi pertama adalah lubang itu disebabkan karena ada meteorit yang jatuh. Perkiraan kedua adalah lubang tersebut disebabkan gas bumi yang mendorong permukaan dan meledak sehingga membentuk lubang seperti kawah.

Dikutip dari The Siberian Times (15/07/2014), apabila ada pemikiran secara ilmiah, ada pula yang mengatakan bahwa lubang tersebut merupakan tempat landasan UFO.

“Lubang tersebut sangat besar sehingga cukup untuk helikopter Mi-8 untuk terbang ke dalam,” ujar pakar yang meneliti lubang tersebut.

Dalam jangka waktu dekat ini akan diadakan penelitian lebih lanjut oleh para pakar dari Russia’s Centre for the Study of the Arctic dan Cryosphere Institute of the Academy of Sciences.

Mereka akan mengambil beberapa sample dari tanah, air dan udara di sekitar tempat tersebut. “Kita memastikan bahwa lubang tersebut terbentuk bukan karena kejatuhan meteorit,” jelas salah seorang pakar.

Menurut para peneliti, sekitar 10 ribu tahun lalu sebelum menjadi sebuah daratan, daerah di Yamal tersebut dulunya adalah sebuah laut, dan kemudian garam, tanah dan berbagai sendimen menyatu.

Diperkirakan gas bumi yang tersimpan di dalam tanah menyeruak keluar karena pemanasan global yang akhirnya membentuk lubang besar tersebut.

Penyebab Lubang Misterius Ini Akhirnya Terkuak

Teka-teki kawah raksasa yang tiba-tiba muncul di kawasan Siberia, Rusia bagian utara, akhirnya terkuak. Setelah melakukan penelitian, para ilmuwan menyimpulkan bahwa kawah misterius yang menganga dengan diameter 100 meter itu bukan disebabkan karena tumbukan meteorit.

Dikutip dari laman Daily Mail, Sabtu 19 Juli 2014, kawah itu terjadi karena kelebihan tekanan gas, karena di daerah tersebut mengalami perubahan suhu. Peneliti dari Pusat Penelitian Ilmiar Artik, Andrei Plekhanov, mengatakan daerah di sekitar lubang itu memang kaya akan gas alam.

Karena suhu di sekitarnya berubah, maka terjadilah tekanan gas di dalam tanah dan menyebabkan letupan. Sebelum membuat kesimpulan ini, Plenkhanov dan peneliti lain telah melakukan observasi ke Semenanjung Yamal itu pada Rabu yang lalu.

Menurut Plenkhanov, 80 persen material di sekitar dari lubang itu adalah es. Sehingga temuan ini membantah dugaan kemungkinan tumbukan meteorit yang menyebabkan terbentuknya lubang raksasa itu.

Para ahli lebih berkeyakinan kawah itu terbentuk karena faktor pemanasan global. Gas di bawah permukaan tanah terlepas, yang kemudian meledak seperti gabus sampanye. Sementara aksen gelap di dalam lingkaran lubang itu mengindikasikan kebakaran hebat yang menghanguskan dinding-dinding lubang.

Sementara itu, Anna Kurchatova, ilmuwan dari Pusat Penelitian Sub-Artik, mengatakan material di sekitar kawah itu terbentuk dari campuran antara air, garam, dan gas, yang memicu ledakan di bawah tanah akibat pemanasan global. Gas terakumulasi di dalam es yang bercampur dengan pasir di bawah permukaan dan kemudian bercampur dengan garam.

Pada 10 ribu tahun silam, daerah ini merupakan lautan. Pemanasan global kemungkinan telah menyebabkan lelehnya es di bawah permukaan, melepaskan gas dan menyebabkan efek ledakan seperti gabus penutup botol sampanye.

Mulut lubang dilihat dari dekat (Sumber: The Siberian Times)

Menguak Lebih Dekat Isi Lubang Misterius

Dari penelitian lebih lanjut itu, diketahui bahwa lubang tersebut memiliki kedalaman sekitar 70 meter. Di bagian dasarnya terlihat semacam danau es, terlihat juga air yang mengucur, mengikis tanah di dalam. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ukuran lubang ini tdak selebar perkiraan sebelumnya, yaitu berdiameter antara 50 sampai 100 meter.

Ilmuan Senior dari Pusat Penelitian Negara untuk Penelitian Artik, Andrey Plekhanov, mengatakan kawah ini lebih berbentuk oval, bukan lingkaran bundar sempurna. Sehingga sangat sulit untuk menentukan ukuran diameter secara pasti. “Sampai sekarang perkiraan kami (diameternya) sekitar tiga puluh meter,” tutur Plekhanov.

“Jika kita mencoba untuk memastikan diameter bersama-sama dengan emisi tanah, yang disebut tembok pembatas, maka diameternya hingga enam puluh meter. Kawah ini lima puluh hingga tujuh puluh meter,” tambah dia.

Dinding lubang menghitam (Sumber: The Siberian Times)

Para peneliti tidak bisa sampai masuk ke dasar danau es, namun hanya bisa masuk ke dalam lubang tersebut. “Ada es di dalam kawah yang mencair secara bertahap di bawah matahari,” ujar Plekhanov.

“Juga ada air mengucur pada sisinya, Anda dapat melihat jejak air pada gambar. Kawah ini terdiri dari es sekitar delapan puluh persen.”

Sebelumnya, para peneliti juga telah mengambil sampel tanah dan es dan kemudian menelitinya di laboratorium. “Kami bisa yakin mengatakan bahwa kawah ini muncul relatif baru, mungkin dalam satu atau dua tahun lalu. Sehingga ini merupakan informasi baru, kita tidak bicara tentang kejadian puluhan tahun silam,” kata Plekhanov.

Para ilmuan, kata dia, harus melanjutkan penelitian untuk memastikan apakah lubang itu benar-benar terbentuk karena letupan akibat memuainya gas yang dipengaruhi oleh perubahan suhu gara-gara pemanasan global.

Pada dua musim panas sebelumnya, 2012 dan 2013, memang suhu di Yamal relatif panas. Mungkin ni yang menurut Plekhanov menyebabkan pembentukan lubang tersebut. “Tapi kami harus melakukan tes dan penelitian pertama dan kemudian menyimpulkannya dengan lebih tepat,” ujar dia.

Semenanjung Yamal

Namun, terori yang paling mungkin untuk menjelaskan terbentuknya lubang itu saat ini adalah adanya energi dari dalam, bukan dari luar.

“Untuk sekarang kami dapat mengatakan dengan pasti bahwa di bawah pengaruh proses internal ada injeksi di permafrost atau lapisan es. Saya ingin menekankan bahwa ini bukanlah ledakan, tapi injeksi, sehingga tidak ada panas yang dilepaskan seperti yang terjadi,” kata Plekhanov.

Dia mengutip penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan pada tahun 1980-an. Penelitian itu telah ditinggalkan dan dilupakan selama beberapa tahun.

Danau es di dasar lubang misterius Siberia (Sumber: The Siberian Times)

“Teori itu menyebut bahwa sejumlah danau di Yamal terbentuk karena proses alami persis seperti yang terjadi pada lapisan es.”

“Seperti proses yang terjadi sekitar 8.000 tahun lalu. Mungkin ini terulang sekarang. Jika teori ini benar, kita dapat mengatakan bahwa kita telah menyaksikan proses alam yang unik yang membentuk lanskap yang tidak biasa di Semenanjung Yamal,” tambah Plekhanov.

Memang para ilmuan menduga lubang itu terbentuk karena proses alami.

Sebab, tidak ditemukan dampak antropogenik, atau dampak dari campur tangan manusia, di dekat kawah. Kecuali jejak kereta luncur dan kaki-kaki rusa.

Sehingga Plekhanov mengatakan, “Jika lubang ini hasil bencana buatan manusia dihubungkan dengan pemompaan gas, peristiwa ini mungkin akan terjadi lebih dekat dengan ladang gas.” Namun ini jaraknya sekitar 30 kilometer dari ladang gas alam.

Dia juga menolak teori yang menyebut lubang itu terbentuk karena UFO masuk ke dalam bumi. “Tidak ada yang misterius terkait lubang itu. Tidak ada yang aneh atau tidak bisa dijelaskan di sana, (nyatanya) kami kembali dengan selamat,” tambah Plekhanov.

Meski demikian, dia mengaku baru kali ini melihat fenomena seperti ini. “Saya tidak pernah melihat apapun seperti ini, meskipun saya telah datang ke Yamal berulang kali.” (The Siberian Times/Merdeka/Dream)https://indocropcircles.wordpress.com/2014/07/20/misteri-tanah-berlubang-di-siberia-berdiameter-80-meter/

Translate